Bukan Ajang Hura-hura, Lebaran Depok Lestarikan Warisan Budaya

 41 total views,  1 views today

RANGAKAPANJAYA, PLANET DEPOK. COM – Kumpulan Orang-Orang Depok (KOOD) bersama Pemerintah Kota ( Pemkot) Depok, menyelenggarakan Lebaran Depok yang kedua kalinya, di Rumah Budaya Depok, Jalan Keadilan Raya, Rangkapanjaya, Panmas, Kamis (10/6/21).

Ketua Harian KOOD Engkong H. Ma’sum mengatakan, kegiatan tersebut merupakan ajang silaturahmi yang dikemas menjadi Lebaran Depok, acara itu sudah kali kedua dilaksanakan,yakni pada 2019 di Sawangan, 2020 secara virtuall lantaran erhalang pandemi dan 2021 di Rumah Budaya.

Engkong Ma’sum

“Lebaran Depok yang dilaksanakan tiap akhir bulan Syawal, tidak bermakna sama dengan Idul Fitri, ini adalah momentum menyajikan tradisi warga masyarakat Depok dari masa lalu, seperti anak menghormati orang tua, murid menghargai guru dan rakyat memuliakan pemimpinannya. Lebaran kali ini kita ambil tema Nyorog ke Baba Wali”, ulasnya.

Lebaran Depok, tambahnya, memiliki wujud 2 nilai yakni etika berubah wujud akhlakul karimah dan estetika, berupa seni budaya Depok.

baca juga:  Sekda Depok Ajak Warga Berjuang Bersama Lawan Corona

Engkong Ma’sum mengisahkan, Depok masa lalu, punya tradisi dimana warga membawakan makanan tradisi yang di masak dan dianter langsung kepada pimpinan daerah, yakni Walikota dan wakilnya yang disebut Nyorog.

“Tradisi Nyorog, dimana warga bertemu wajah, cium tangan dan meminta maaf, sekarang ini nilai etika itu sudah terkikis, sekarang silaturahmi hanya lewat HP, permohonan maaf hanya dari tulisan, oleh karenanya, tradisi bernikai etika itu, kita hidupkan kembali, lewat pengembangan tradisi dan budaya asli warga Depok melalui KOOD”, tandasnya.

Dia juga menegaskan, Kita KOOD Berbudaya tidak bermakna sukuisme, yang memberi jarak orang asli dan pendatang, KOOD berdiri atas orang-orang yang sadar dan ingin kembangkan serta lestarikan kebudayaan Depok.

Mpok Nina Suzana

Sekretaris KOOD Nina Suzana mengatakan, lebaran Depok kali kedua tersebut, terselenggara berkat kerjasama dengan Disporyata Kota Depok. Bahkan Disporyata kini tengah mengajukan ke Provinsi Jabar, bahwa Lebaran Depok merupakan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

baca juga:  Disrumkim Kota Depok Bangun Ipal Komunal di Ponpes

“Kita sangat apresiasi uupaya Pemkot itu, artinya KOOD tidak sia-sia lakukan pelestarian seni budaya asli Depok”, ujarnya.

Dengan Lebaran Depok, imbuhnya, KOOD ingin tunjukkan kepada generasi muda budaya asli Depok, contohnya seperti cara bikin dodol agar anak cucu tahu bagaimana kue kita dan cara membuatnya.

“Nyorog atau nganter, jaman sekarang sudah tidak dilakukan warga Depok lagi, ini yang harus kita angkat kembali, agar anak cucu kita tahu dan ikut melestarikannya”, tuturnya.

Wijayanto

Kepala Disporyata Kota Depok Wijayanto, mengungkapkan, Lebaran Depok bukan sekedar hura-hura, tapi ingin lestarikan Warisan budaya warga Depok tempo dulu.

“Orang Depok adalah orang jujur, perkataan dan jeblakan adalah yang ada dihati, itu perlu dijaga dan sangat mahal keberadaannya. Begitu juga dengan seninya yakni, gambang, rebut dandang dan tradisi nyorog. Ini mudah-mudahan bisa kami diangkat menjadi luas lagi ke tingkat Nasional, kami sedang usahakan Lebaran Depok jadi WBTB ke Jabar”, urainya.

baca juga:  MTQ XXI Kota Depok Kesalehan Sosial Berjiwa Qur'ani

Hal itu, lanjutnya, perlu dikaji tim cagar budaya, yang terdiri dari para ahli dan akademisi serta budayawan. Pengajuan tersebut, akunya, bukan maunya KOOD tapi ini merupakan sinergitas perpaduan masyarakat dan pemerintah.

“Harapanya ini jadi event besar di Depok, saya sudah membayangkan untuk lakukan dan di kenalkan secara Nasional. Mudah-mudahan tahun depan bisa dilaksanakan di alun-alun Depok, bisa dirangkai dengan HUT Depok tahun 2022”, harapnya.

Wijaya juga merasa bangga, KOOD sudah merintis apa yang disebut kamus bahasa Depok, baginya, itu potensi yang harus ditanamkan pada generasi mendatang Kota Depok, dengan cara menjadikan kurikulum atau pelajaran Muatan Lokal (Mulok) ditiap sekolah.

“Kota Depok secara administrasi diadik ada di Jabar, makanya Mulok di sekolah adalah bahasa Sunda, kita akan coba ganti, nanti kita akan diskusi dengan Disdik”, cetusnya. *rik

%d blogger menyukai ini: