Pemotongan Hewan Qurban Harus Patuhi SE Walikota Depok

 58 total views,  1 views today

Diah Sadiah
BALAIKOTA, PLANET DEPOK. COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Wali Kota Nomor: 443/ 314-Huk/DKP3 tentang Pelaksanaan Kegiatan Kurban dalam Situasi Wabah Bencana Non Alam Corona Virus Desease 2019 (Covid-19) di Kota Depok.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Kota Depok, Diah Sadiah mengatakan, salah satu poin dalam SE tersebut, mengatur tentang tata cara pemotongan hewan kurban di Rumah Potong Hewan Ruminansia (RPH-R) dan diluar RPH-R.

Pemotongan hewan kurban dikedua tempat tersebut, harus menerapkan protokol kesehatan (Prokes) pencegahan Covid-19 secara ketat.

“Untuk di RPH-R harus memenuhi syarat protkes pencegahan penularan Covid-19. Antara lain juru sembelih hewan dalam keadaan sehat, yang ditunjukan dengan hasil rapit test non reaktif (negatif) atau rapit test antigen non reaktif (negatif) atau swab PCR negatif,” ujarnya, Kamis (8/7/21).

baca juga:  Pemberitahuan Kepada Pelanggan Asasta

Lalu, lanjutnya, RPH-R bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kesejahteraan hewan.

Untuk hewan yang didatangkan dari luar Kota Depok, kata dia, harus disertai Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal hewan.

Selain itu, juga bertanggung jawab terhadap pengelolaan limbah dari hewan dan hasil proses pemotongan.

Sementara untuk pemotongan hewan kurban di luar RPH-R, tegasnya, ketentuannya sebagai berikut. Lurah melakukan pemetaan lokasi penyelenggaraan pemotongan hewan kurban dengan mempertimbangkan zona RW, Prokes pencegahan penularan Covid-19, serta ketertiban dan keamanan.

baca juga:  Puluhan Ribu Warga Depok Terima Sertifikat Tanah

Persetujuan tempat pemotongan hewan kurban, tambahnya, dikeluarkan oleh camat yang berlaku pada hari H Idul Adha dan hari Tasyrik berdasarkan rekomendasi dari lurah setempat, yang dikuatkan dengan surat pernyataan tanggung jawab penuh dari panitia pemotongan hewan kurban.

“Lurah juga melaporkan data pemotongan hewan kurban dan perkembangannya ke Camat setiap harinya. Selanjutnya camat melaporkannya ke Wali Kota Depok melalui DKPPP,” jelasnya.

Berikutnya, papar Diah, penyelenggara juga harus memenuhi sejumlah persyaratan. Antara lain prokes pencegahan penularan atau penyebaran Covid-19, pemotongan dihadiri oleh petugas dan panitia kurban dengan jumlah terbatas sesuai dengan pemberlakuan PPKM Darurat, dan orang yang berkurban agar menyaksikan pemotongan melalui video call/daring atau media lainnya untuk menghindari kerumunan.

baca juga:  Titian Ramadhan: Makna Ramadhan Sebagai Media Pembelajaran

Sedangkan untuk pendistribusian daging kurban dilakukan langsung oleh panitia ke rumah mustahik dengan menggunakan kemasan ramah lingkungan. Terakhir, panitia penyelenggara melaporkan hasil pemotongan ke lurah setiap hari.

“Guna menjaga kualitas, daging harus segera dibagikan. Untuk itu, panitia perlu mengatur waktu pemotongan di hari H dan Hari Tasyrik disesuaikan dengan jumlah SDM dan pemenuhan jarak fisik di lokasi pemotongan, sehingga menghindari klaster penularan di tempat pemotongan dan kualitas daging tetap Aman, Sehat, Utuh serta Halal (ASUH) layak dikonsumsi,” tandasnya. *cky

%d blogger menyukai ini: